Puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 54 di Kabupaten Mandailing Natal dilaksanakan pada tanggal 19 November 2018. Tema HKN ke-54 kali ini adalah “Aku Cinta Sehat” dengan sub tema “Ayo Hidup Sehat, Mulai dari Kita”. Tema tersebut sejalan dengan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) yang menekankan pada kesadaran setiap individu untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Istilah “Mulai dari kita” diharapkan akan dapat mengubah wajah kesehatan di Negri kita tercinta khususnya Kabupaten Mandailing Natal. Diharapkan peringatan HKN ke-54 merupakan momentum untuk mengubah gaya pelayanan kesehatan dari kuratif menjadi preventif dan promotif, sehingga seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Mandailing Natal lebih banyak memiliki kegiatan di lapangan dekat dengan keluarga dan masyarakat.

Sebelum puncak peringatan HKN ke-54 ini, berbagai rangkaian kegiatan  dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal seperti lomba meracik obat tradisional, lomba penyuluhan imunisasi dengan peserta anak sekolah dasar, lomba merangkai buah dan sayur dengan peserta dari OPD setempat, lomba senam lansia, serta hiburan dan aneka lomba antar bidang di Dinas Kesehatan. 

Pada peringatan HKN ini juga diluncurkan Public Safety Center (PSC) 119 Kabupaten Mandailing Natal. PSC 119 merupakan layanan cepat tanggap darurat kesehatan. Tujuannya adalah untuk mempercepat penanganan dan pertolongan pada korban yang membutuhkan penanganan segera seperti pasien serangan jantung di rumah, korban kecelakaan, korban bencana alam. Masyarakat dapat menghubungi call center 119 jika mengalami suatu kejadian yang membutuhkan penanganan segera. Call centre akan menanyakan dimana lokasi kejadian berada dan akan mengarahkan Ambulans 119 atau Puskesmas yang dekat dengan lokasi kejadian untuk segera meluncur ke lokasi.

 

Tantangan Pembangunan Sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat khususnya ke badan air yang juga di gunakan untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan higienis lainnya. Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya peningkatan akses sanitasi yang bersih. Sejak tahun 2006 di Indonesia jumlah Desa yang telah melaksanakan STBM adalah 42% atau sebayak 33.927 desa/kelurahan.

Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat untuk menganalisa kondisi sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan sembarang tempat. Pendekatan yang dilakukan dalam STBM menimbulkan rasa malu kepada masyarakat tentang kondisi lingkungannya yang buruk dan timbul kesadaran akan kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak nyaman di timbulkan. Dari pendekatan ini juga ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan BAB di sembarang tempat) adalah masalah bersama karena dapat berakibat kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya juga harus dilakukan dan dipecahkan secara bersama.

Pemicuan STBM di Desa Banjar Aur, Wilayah Kerja Puskesmas Batahan, Kecamatan Batahan.

Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di wilayah Puskemas Kabupaten Mandailing Natal, oleh Petugas  Dinas Kesehatan Mandailing Natal bertujuan untuk menuju perilaku hidup bersih dan sehat, melalui Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBAS). Diharapkan dengan adanya Program Pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) tahun 2018 dapat meningkatkan kapasitas dan kemampuan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan program pengembangan cakupan sanitasi melalui pengembangan jamban keluarga dan pembangunan sarana sanitasi di sekolah/tempat ibadah serta memperluas manfaat kesehatan yang dirasakan melalui pengembangan sarana air bersih dan sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat.

Pemicuan STBM di Desa Koto Baringin, Wilayah Kerja Puskesmas Muarasipongi, Kecamatan Muarasipongi

Kabupaten Mandailing Natal memiliki banyak sungai -sungai, akan tetapi masyarakat sekitar masih memanfaatkan sungai tersebut sebagai sarana kebutuhan sehari-hari mulai dari mandi, cuci piring, BAB, BAK dan keperluan higienis lainnya. Padahal diketahui bahwa itu sangat berbahaya bagi kesehatan mereka. Untuk itu perlu dilakukan suatu kegiatan pemicuan STBM agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengubah pola prilaku sanitasi mereka. Pada tahun 2017 di Kabupaten Mandailing Natal  sebanyak 19 desa dari 10 kecamatan yang telah melaksanakan pemicuan STBM, sedangkan pada tahun 2018 jumlah desa yang melaksanakan pemicuan STBM 10 Desa di  7 Wilayah Kerja Puskesmas di Kabupaten Mandailing Natal. Kegiatan ini dilaksnakan oleh peserta dengan jumlah lebih kurang 40 orang per desa. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini diharapkan dapat mengubah pola perilaku masyarakat dengan pola kesadaran  menggunakan  sarana air bersih dan perilaku hidup sehat.

Kontributor: Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Kesehatan Olahraga 

Editor: Subbag Program Informasi dan Humas

.

 

Saat ini Indonesia tengah mengalami transisi epidemiologi penyakit yang ditandai dengan meningkatnya angka kematian dan angka kesakitan akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti jantung, stroke, gagal ginjal, diabetes dll. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang ingin serba cepat dan praktis. Misalnya dari segi menu makanan, masyarakat saat ini cenderung memilih makanan yang siap saji yang belum tentu memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh, ditambah lagi kebiasaan merokok. Hal ini diperparah dengan minimnya aktifitas fisik yang dilakukan karena mudahnya mengakses barang atau produk yang diinginkan tanpa harus pergi ke tokonya langsung, hanya dengan memencet tombol keyboard di layar handphone semua yang diinginkan bisa diantar langsung ke tempat.

Angka penyakit tidak menular di Indonesia saat ini menunjukkan angka yang menghawatirkan, pada tahun 2016 tercatat prevalensi penderita Hipertensi sebanyak 30,9%, Obesitas 33,5%. Jumlah penderita PTM di Kabupaten Mandailing Natal  tahun 2017 juga menunjukkan angka yang tidak sedikit, penderita hipertensi  sebanyak 2.916 atau sebesar 29,98%, sedangkan Obesitas sebanyak 267 penderita  atau 2,75%.

Dampak meningkatya kejadian PTM adalah meningkatnya pembiayaan pelayanan kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah, menurunnya daya saing negara yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat. Perbaikan lingkungan dan perubahan perilaku kearah yang lebih sehat perlu dilakukan secara sistematis dan terencana oleh semua komponen bangsa, untuk itu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) menjadi sebuah pilihan dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik. 

Forum Koordinasi Germas Kabupaten Mandailing Natal, 10 Juli 2018 di Aula Hotel Rindang Panyabungan

Sesuai intruksi Presiden No.1 Tahun 2017 tentang Germas bahwa gerakan ini sebagai salah satu perwujudan dari Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden kepada semua pimpinan daerah, pimpinan institusi pemerintahan dan masyarakat, untuk melaksanakan kegiatan Germas di lingkup tanggung jawab masing-masing. Ada 6 fokus Kegiatan utama dalam Germas antara lain seperti (1) melakukan aktifitas fisik, (2) mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari, (3) cek kesehatan rutin 6 bulan sekali untuk mendeteksi dini penyakit, (4) tidak merokok, (5) tidak mengkonsumsi alkohol, (6) membersihkan lingkungan dan menggunakan jamban sehat.

Forum Koordinasi Germas Kabupaten Mandailing Natal, 10 Juli 2018 di Aula Hotel Rindang Panyabungan

 

Sebagai awal dilaksanakannya program nasional tersebut, di Kabupaten Mandailing Natal dilakukan Pertemuan forum koordinasi untuk terlaksananya implementasi Germas di Kabupaten Mandaiing Natal, Forum ini dilaksanakan di Aula Hotel Rindang Panyabungan pada tanggal 10 Juli 2018 dan dihadiri oleh Lintas Sektoral terkait OPD Pemda Kabupaten Mandailing Natal. Dengan terlaksananya pertemuan tersebut diharapkan adanya komitmen dari lintas sektor dalam mendukung kegiatan Germas dengan adanya wujud nyata dari kegiatan-kegiatan yang langsung dapat menggerakkan masyarakat agar mau melaksanakan ke-enam kegiatan Germas tersebut.

Kontributor: Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Editor: Subbag Program, Informasi dan Humas

Measles Rubella (MR) adalah penyakit campak dan rubella yaitu penyakit infeksi menular melalui saluran atas. Gejalanya untuk campak seperti demam tinggi, bercak kemerahan disertai dengan batuk, pilek dan mata merah. Sedangkan Rubella tidak spesifik gejalanya, bahkan bisa tanpa gejala, gejala umum berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah dan nyeri persendian. agar terlindung dari penyakit campak dan rubella diberikan imunisasi dengan vaksin MR karena tidak ada pengobatan sama sekali untuk penyakit campak dan rubella. Vaksin MR aman digunakan dan telah mendapatkan rekomendasi dari WHO dan izin edar dari BPOM.

   

Kampanye imunisasi MR adalah upaya pencegahan penularan penyakit campak dan rubella di masyarakat dengan cara pemberian vaksin MR secara massal pada anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun. Tujuannya untuk meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penularan penyakit campak dan rubella yang dapat meyebabkan kecacatan dan kematian. Kampanye imunisasi MR dilakukan pada bulan Agustus (sekolah) dan September (puskesmas, posyandu) tahun 2018 diluar pulau Jawa khususnya Kabupaten Mandailing Natal. Untuk imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit sehingga terdapat adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016.

REKRUTMEN ENUMERATOR RISKESDASREKRUTMEN ENUMERATOR RISKESDASRiset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan penelitian bidang kesehatan berbasis komunitas yang hasilnya dapat menggambarkan status kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Data Riskesdas diperlukan untuk memberikan informasi pencapaian hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan, sehingga dapat mendukung penyusunan kebijakan serta program dan kegiatan pembangunan yang lebih terarah dan tepat sasaran.

Untuk mencapai hasil Riskesdas yang optimal maka diperlukan ENUMERATOR yang berkompeten sebagai ujung tombak kegiatan pengumpulan data. Berdasarkan Surat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nomor LB.02.03/1/1143/2018 perihal Rekrutmen Enumerator Riskesdas Korwil II, maka dengan ini dibuka kesempatan bagi Saudara/i untuk menjadi bagian dari Tim Enumerator (Pengumpul Data Lapangan) Riskesdas 2018 di Kabupaten Mandailing Natal.

Silahkan mengklik tautan untuk informasi selengkapnya.

Goes Sepeda

26 September 2017 | Galeri | Tidak ada Komentar

Goes Sepeda memeriahkan 17 Agustus 2017